Minggu, 04 Desember 2011

Curhatan Matahari

Pagi yang cerah dengan disaksikan langit yang biru, dengan kedipan matahari yang tersenyum melihat kembali suasanna dunia.

Entah apa yang dipirkan matahari ketika setiap hari dia menyinari bumi yang ketika musim kemarau matahari tidak diharapkan untuk turun hadir dalam kanca dunia persilatan, he he kok gitu sih kan kasian.

Ketika musim hujan justru matahari sangat diharapkan utnuk datang menyinari bumi kita yang terliha bulat. ya ialah emang kotak

curhatan matahari, entah kenapa ketika aku menyinari bumi yang tugas itu diamanhkan ke aku, aku taat dengan intruksi yang telah menjadi fitrahku. Tapi aku sedih sekali setiap hari aku melihat dunia semakin hari semakin menghawatirkan.

Aku telah hidup lama sekali ketika aku diciptakan aku melihat kegelapan dunia yang penuh dengan kejahatan. kezaliman, ketidak beradaban, brutal bahakan bayi perempuan yang baru lahir aja langsung dikubur hidup-hidup. hati ini miris sekali.

Rasanya diri ini  ingin sekali  meneteskan air mata tapi gak bisa, berkalai-kali aku mencoba tetap juga gak bisa. karana aku terkadang lupa diriku ini matahari yang panasnnya melampoi pikiranku bahakan satu tetesan air pun tak bisa kurasakan. Geram, benci, marah, sedih semua bercampur aduk dalam perasaanku. Rasannya aku ingin membuat semua orang dibumi panas, tapi selalu diingatkan oleh Sang maha yang membuat diriku maha pemurah dan penyayang. selalu kuurungkat niatku untuk itu.

Tak berapa lama  ada setitik cahaya yang menyinari diriku dari bumi ada. aku terkejut penasaran dan heran. Apa gerangan yang ada dibumi itu membuat aku berkata,"silau men"dari setitik cahaya itu akhirnya tersebar luas kezazirah arab bahkan sampai eropa .luar biasa DUASIATTTTT. he he aku lupa fitrahku matahari yang selalu cool diam seribu bahasa. aku jadi malu. "jangan beritau bulan ya.sssssssssss

Dari situ hati tenang melihat orang-orang yang ada dibumi hidup rukun, makmur menghargai perasaran diriku, menjaga alam agar tidak menjadi panas global. senang rasanya hatiku damai sekali.

Tapi suatu ketika semua itu berubanh setelah 1300 tahun lebih aku merasa ketenangan sekarang aku kembali risih, barusan aku dapaet sms dari bulan katannya malam itu gak kalah ramai sama siang. ya sensus penduduk malamku bertambah. hore hore sorak bulan.

Ini anak aneh sekalai dalam hati matahati,! lok kok aneh he he aku baru tau  ku kan gak punnya bentuk hati, tapi aku perasa tauuuu. Dunia sudah berubah ketika tahun 1924 kalau gak salah namanya juga matahari gak pernah sekolah. meredupnya cahaya yang selami ini menyilaukan diriku akhirnnya sirna.

jaman sekarang tennyata jauh lebih parah ketika anak perempuan lahir langsung dikubur. sekarang belum lahir aja sudah dibunuh. ternyata aku kembali lagi bersedih ini dilema yang sangat membuat batinku terengut lagi. salah satunya karena dunia tidak memikirkan perasaanku.

Aku rindu dengan cahaya itu aku bosan melihat kegelapan yang selalu menghantuiku. ditambah semakin bannyaknnya remaja-remaja ceweknnya 2,5 juta terjadi aborsi disalah satu negara yang berpenduduk muslim, ana gak mau memberikan tulisannya akhwat. gak enak sama rembulan disana.cie. Akan kah dunia ini seperti ini terus, aku berharap kata temen ana matahari. wah antum bisa bayangin gak kalau temen ana matahari. hem ?

Ini lah salah satu dilema yang menjadi buah bibir matahari dan kawan-kawannya. Harapan semoga ada nur yang akan mengembalikan keadaannya sama seperti matahari rasakan.Amin.

Apa ya cahaya itu nanti lihat diepisot selanjutnnya.

wassalam,

Adit 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar